Print
Prinsip Prinsip Relationship di dalam Tuhan

Prinsip Prinsip Relationship di dalam Yesus Tuhan

Saya sering sekali mendengarkan curhatan orang-orang, dan curhat yang paling sering saya dengar adalah curhatan tentang relationship, ya, tentang hubungan dengan lawan jenis. Banyak dari kita yang ingin mengetahui seperti apa rupa dari sebuah relationship di dalam Tuhan, tetapi Alkitab tidak mengandung deskripsi yang jelas tentang relationship yang sejalur dengan kehendak Tuhan. Maka itu hari ini saya akan mencoba menjelaskan prinsip dari relationship yang didasari oleh ajaran-ajaran Alkitab, dan saya percaya Firman-Nya dapat membantu kalian untuk memiliki sebuah relationship yang lebih baik dan sehat. Hal penting yang saya ingin ingatkan sebelum saya mulai dengan poin-poin saya: “Kita pacaran dengan tujuan untuk menikah dan memuliakan Tuhan di dalam pernikahan kita. Jika dari awal tujuan kamu pacaran hanya untuk bermain-main, lebih baik jangan pacaran dulu, karena pada akhirnya kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri atau menyakiti hati orang lain.”

Baiklah mari kita lanjutkan, inilah 3 prinsip yang harus kamu pegang di dalam relationshipmu:

 
“Dunia mengajarkan kita untuk mengasihi, jika… Tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk mengasihi, bahkan jika…”

Tuhan tidak pernah mengajarkan kita untuk mengasihi hanya orang-orang yang mengasihi kita, Dia ingin kita untuk juga mengasihi orang-orang yang mungkin rasanya tidak layak untuk mendapatkan kasih kita. Di dalam relationshipmu, suatu hari kamu pasti akan mencapai sebuah kondisi dimana rasanya kamu tidak memiliki alasan sama sekali untuk tetap mengasihi kekasihmu, tetapi disanalah kesetiaanmu sesungguhnya akan diuji. Tuhan tidak ingin kamu setia hanya pada masa-masa senang, Dia ingin agar kamu juga setia pada masa-masa sulit. Tuhan tidak mengajarkan kita untuk mengasihi dengan syarat, melainkan dengan tanpa syarat.

“Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka” (Lukas 6:32).


Kasih tanpa syarat adalah sebuah kasih yang harus dimiliki oleh setiap Kristen, dan ini adalah sebuah bentuk kasih yang Tuhan ingin kita pancarkan kepada orang-orang di sekitar kita. Jika Tuhan ingin kita untuk mengasihi tanpa syarat kepada orang-orang yang tidak kita kenal di sekitar kita, apalagi kepada pasangan kita bukan? Kasih mungkin terkadang terlihat sebagai suatu kelemahan oleh orang-orang dunia, tetapi sesungguhnya kasih adalah hal paling kuat di dunia ini. Hanya kasih sejati yang dapat menggagalkan pernikahan yang hendak bercerai, hanya kasih sejati yang dapat menghilangkan dosa hawa nafsu, dan hanya kasih sejati yang dapat membuat sebuah hubungan setia hingga akhir (1 Korintus 13). Dan darimanakah kasih yang sesungguhnya itu berasal? Kasih sejati itu berasal dari Tuhan kita sendiri, Alkitab mengatakan bahwa Dia lah kasih itu (1 yohanes 4:8). Jadi jika kamu ingin dapat mengasihi pasanganmu tanpa syarat, berdoalah kepada Tuhan dan mintalah pimpinanNya, karena Dia lah sumber kasih sejati.

 
Berhentilah berpikir “apa yang bisa aku dapatkan darinya?” Dan mulailah berpikir “apa yang bisa aku berikan untuknya?”

Pernikahan bukanlah hanya tentang “dia sekarang milikku,” tetapi lebih tentang “aku sekarang milikmu.” Relationship adalah tentang melayani satu sama lain, bukan ingin dilayani satu sama lain. Banyak orang yang secara tidak sadar memiliki pemikiran ingin dilayani; jika kamu sedang berada di dalam sebuah hubungan, saya ingin kamu menyelidiki isi hatimu dan juga perjalanan hubunganmu hingga hari ini, apakah kamu memiliki sebuah pemikiran untuk dilayani atau untuk melayani?


“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Galatia 5:13).

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25).

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” (Efesus 5:22).

 
Letakkanlah pusat relationshipmu pada Tuhan, bukan pasanganmu

Seringkali pasangan kita malah menjadi sebuah berhala di dalam hidup kita—kita malah menjadikan mereka sebagai pusat dari kehidupan kita, hingga kita menduakan Tuhan.

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Lukas 14:26).

Tuhan ingin menjadi nomor satu di dalam kehidupan kita, termasuk kehidupan relationship kita. Saya sangat menyukai lirik dari lagu Marriage Prayer yang diciptakan oleh John Waller. Di dalam lagu tersebut terdapat lirik yang berbunyi seperti ini:

 

Father, I said till death do us part

I want to mean it with all of my heart

Help me to love You more than I love her

Then I know I can love her more than anyone else

 

Percaya deh, ketika kita meletakkan fokus kita pada mencintai Tuhan, kita akan memiliki sebuah cinta yang jauh lebih luar biasa kepada pasangan kita dibandingkan ketika kita meletakkan fokus kita pada mencintai pasangan kita.

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33).

Jika kamu mengharapkan sumber kebahagiaan terbesarmu dari pasanganmu, saya dapat jamin kamu akan menemukan dirimu masih haus pada akhirnya. Pasanganmu tidak dapat memberikan kebahagiaan yang kekal, kamu hanya dapat menemukannya di dalam Tuhan. “Jawab Yesus kepadanya: ‘Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.’” (Yohanes 4:14). Ketika kamu menemukan sumber kebahagiaan sejatimu di dalam Tuhan, kamu juga akan dapat menemukan kebahagiaan besar di dalam relationshipmu.

Category: Relationship
Hits: 841